Project Management

Metodologi Projek

Sebagai prinsip dasar dari delivery projek, sangatlah penting kita memiliki metodologi dan pendekatan. Salah satu pilar delivery projek, seorang project manager harus memiliki metodologi komprehensif yang mencakup proses bisnis, organisasi, teknologi dan service introduction. Selain itu, projek harus memiliki tools yang handal untuk pengelolaan end-to-end program management. Tools disini bisa berbentuk apa saja seperti excell maupun program kerja lainnya.

Metodologi projek dapat digunakan untuk
– Menyediakan struktur dan konsistensi untuk setiap area.
– Menyediakan templates untuk deliverables proyek.
– Menjamin kedisiplinan dan ketelitian melalui standarisasi program dan praktek manajemen proyek.
– Mendukung konsistensi, high quality delivery dan proyek di multi-location

Metodologi projek biasanya terbagi menjadi 6 tahap dan disesuaikan dengan tahapan-tahapan dalam implementasi:

  1. Plan – Penyelarasan proses bisnis, mendefinisikan ekspektasi, merencanakan knowledge transfer, membuat blue print, melakukan konfirmasi dari strategi pendekatan fungsional dan pengorganisasian proyek (resource mobilization, infrastructure & equipment, standardization of the project).
  2. Analyze – Proses pengumpulan user requirement, identifikasi, analisa, penjabaran ekspektasi, harapan dari manajemen dan mempersiapkan environment system yang dibutuhkan pada fase desain.
  3. Design – Membuat desain dari komponen aplikasi (configuration, data migration, reports, interfaces & forms (RIEF). Arsitektur untuk fase testing, training plan, communication plan dan implementasi dari deployment plan juga dipersiapkan pada tahap ini.
  4. Develop – Persiapan dan pengembangan komponen aplikasi/sistem, materi training, communication, environment untuk sistem yang akan digunakan untuk training, testing dan sistem support bagi end-user.
  5. Test – Melakukan integration test terhadap semua komponen dari solusi untuk menentukan efektifitas dan integritas dari aplikasi dalam menunjang seluruh kebutuhan proses bisnis.
  6. Deploy – Implementasi setiap unit aplikasi dan melakukan rollout. Pada fase ini juga dilakukan User Acceptance Test, train-the-trainers, conversion dan cut-over, integrasi dengan support unit, dan persiapan environment untuk production dan Go-Live.

Selain itu, secara horizontal, metodologi ini juga dibagi menjadi beberapa work stream:

  1. Application – Terdiri dari aktifitas dan deliverables yang dibutuhkan untuk menganalisa proses bisnis, proses desain, pengembangan proses bisnis dan testing
  2. Technical Architecture – Terdiri dari aktifitas dan deliverables yang dibutuhkan untuk menganalisa proses bisnis, pemilihan/penentuan proses bisnis dan desain, pengembangan proses dan instalasi, dan pengembangan test execution untuk environment operation.
  3. Training and Performance Support – Terdiri dari aktifitas dan deliverables yang dibutuhkan untuk menganalisa proses bisnis, proses desain, testing untuk training, performance support dan menyiapkan materi communication untuk user dan staf support yang akan mendukung proses pemeliharaan dari aplikasi.
  4. Service Introduction – Terdiri dari aktifitas dan deliverables untuk melakukan long-term support yang dibutuhkan oleh end-user dan juga mendefinisikan kebutuhan dari manajemen untuk mendukung penggunaan dari aplikasi.
It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrShare on RedditDigg thisShare on StumbleUponShare on Google+Email this to someone